Aku mengetuk pintu...
Seseorang dengan senyum indah datang membukakan...
Tak bicara namun akrab...
Dimanakah aku sekarang?
Pertanyaan yang hanya dijawab dengan sebuah anggukan...
Pintu itu tak lagi dapat tertutup...
Terbanjiri angin yang berkomplot membawa perasaan yang hilang...
Selang beberapa saat
aku menyadari bahwa aku...sendirian....








Tiba-tiba tawa terhenti
Berubah muram tanpa pesan
Tak ada penjelasan 
Tak ada alasan...
Tak menceritakan apapun

Tiba-tiba hati tak lagi menari
Berubah temaram tanpa hiasan
Padahal detik yang terlewati masih baik-baik saja
Tak ada alasan
Tak ada penjelasan...

Salahkah langkah ini?
Salahkah lisan ini?
Salahkah memperhatikannya seperti ini?
Sebutlah apapun itu, ini hanya sebuah....tanya



Sebait celah sunyi tak menemukan bintang
Tak terarah dan tak jua menyerah
Hanya terkulai di secarik lelah
Satu...Dua....Tiga....
Datang dan pergi silih berganti...

Nafas mulai terengah menahan pasrah..
Namun penantian tak kunjung usang..
Anak tangga tak berdasar tak tampak terlihat...Jauh..
Menangkup masa depan pada sebaris kiasan..

Iniliah alunan rindu...

Inilah alunan jiwa-jiwa yang terkurung rasa itu...

Riwayat batin masih tak terbaca
Kesukaan jiwa masih tak diketahui
Meredam dalam senja temaram..
Meredup dalam timbangan biduk..
Bernama...
Partitur hidup........



06 March 2013



Langit kembali meninggi, membawa senyum pada tempat yang sangat luas, bergerak diantara keping kehangatan yang disebut keluarga. Sahabat. Dan juga, harapan. Kamu telah kembali pulang.

Burung-burung berarak membawa terbang ikut bersorak, seperti aku yang tak henti terus menyimpulkan sebait senyum yang tak lepas sepanjang hari, melukiskan kebahagiaan, kelegaan. Dan juga, harapan.

Selamat sayang, kita merayakan sesuatu lagi, berdiri tepat didepan pintu yang disatu sisi mengurai syukur dan disisi bagian lainnya mengukir rindu. Sedikit membungkukan badan sebagai tanda terimakasih pada mereka yang telah menjadi keajaiban dan memberikan semua hal menakjubkan. Kebahagiaanmu semakin sempurna dengan adanya sebaris kata yang menuliskan namamu di puncak dunia impianmu. Kau memenangkannya. Aku sangat bangga, indah sayang, seperti juga lukisan yang dibuatkan sahabat, mengguratkan kejutan yang akan membekas sebagai kenangan tak terlupakan, memupuk riang, senang. Dan juga, harapan.

Maka tak ada alasan untuk tak melanjutkannya, untuk melengkapi mozaik-mozaik yang tersisa, diantara ruang waktu, rindu, dan cinta yang harus menunggu bertemu.









29 feb 2013





Aku masih menemani kakak ku di Rumah Sakit, operasinya berjalan lancar, bahkan tidak lama lagi sudah boleh pulang, semoga kamu juga ya dear, yes..of course.. :)

Tuhan masih terus mempertemukan aku dengan orang-orang yang luar biasa. Aku memanggilnya Oma. Usianya 64 tahun dear, tapi dia begitu luar biasa, dia masih segar dan bahkan gagah sekali. Oma kuat sekali seperti dirimu dear...Oma berasal dari Bangka Belitung, aku berkenalan dengan Oma beberapa hari lalu, tapi kini kami sudah sangat akrab dear. Jangan cemburu sama Oma ya.. ^_^ 

Beberapa hari lalu ketika pertama kali datang ke rumah sakit ini, aku melihat Oma terbaring sendirian, melihat jendela yang mengarah ke taman. Tapi senyum tak pernah lepas dari wajahnya, mata sipitnya semakin terbenam ketika dia terus tersenyum.

"Ade sakit apa?" oma bertanya,
Dalam hati aku bilang, "loooh kok dia tau nama aku, dukuun yaa.." #orang tua memang memanggil seperti itu pd yg lbh  muda, bodoh! Oke..deal..
"bukan aku yang sakit Oma, kakak ku"
'Sakit apa?' tanya Oma lagi
"saat ini blm tau Oma, masih harus periksa Lab."
Kemudian tanpa kusadari, Oma mengundang masuk keruangan nya, mungkin lebih tepatnya, aku 
yang meminta izin masuk untuk mengajak Oma berbincang,
Tanpa terasa canggung, Oma mulai menceritakan banyak hal, kadang kami tertawa kecil mengenai hal2 yang tidak terlalu penting, dan diakhir, Oma menceritakan sakitnya...

Ternyata Oma penyintas seperti kamu dear, mungkin ini yang membawaku pada Oma, selalu hanya tentang kamu. 

Oma terkena kanker ovarium, sebelum ini dia sudah melakukan kemo puluhan kali, bahkan sempat 
dirawat di Surabaya selama 2,5 tahun,  dan yang buat hatiku teriris adalah, Oma sendirian, tak ada yang menemani atau mendampingi, sekarangpun Oma dirawat di rumah sakit inipun sendirian. Kanker Oma sudh stadium tiga, dan besok dia harus sudah kemo lagi, untuk kesekian puluh kali,
Oma seorang pejuang, kegigihan dan semangatnya mengingatkan aku pada seseorang yang aku 
sayangi dear, Ikan Mas jelek, kamu, iya, kamu.......




28 Feb 2013 17:54




Kita sudah sepakat bukan?, tidak apa seluruh dunia mempersalahkanku atas apapun itu, tapi harus kamu tau bahwa aku juga mempersalahkan diriku, keras kepalamu, semua kata 'baik-baik saja' yang ternyata sebaliknya, itu semua ternyata tak terjadi seperti seharusnya.

Maaf sayang, kali kita tidak sedang berkompromi pada sesuatu yang bisa ditawar. Aku hanya ingin melihatmu pulih, hanya itu. Aku akan menunggu, berapapun waktu yang diperlukan, aku pastikan aku selalu menunggu. Untuk kamu. Tapi untuk kali ini, izinkan semua proses itu seperti seharusnya sayang.

Maaf jika aku tak bicara lagi, aku tetap mengikuti mu, perkembanganmu dan semua tentang kamu, tapi tidak untuk berbicara lewat telfon dulu, tidak untuk saat-saat ini dear. Aku yakin kamu mengerti. Anggaplah ini adalah semua waktu yang pasti terbayar dengan semua kebahagiaan yang akan datang. Yakini saja, karena itu benar2 akan terjadi, asalkan kamu tetap...patuh.




Sudah cukup,
Aku tidak akan memaafkanmu jika tetap seperti itu,
Mengertilah walau sedikit..
Mimpikan apapun!
Tapi usahakan segalanya!

Aku tidak akan memaafkan diriku jika sesuatu terjadi padamu,
Dan aku juga tidak akan memaafkanmu jika keras kepalamu tetap seperti itu..

Waktu sudah memberikan ruang
Jangan lagi,... dibuang...



Semakin banyak cara untuk ditemukan...
Semakin banyak cara menghilang...
Mereka yang tinggal terlalu lama...
Atau mereka..yang pergi terlalu cepat...
Padamlah...di sudut pandangan tak terarahku...
Agar aku, senantiasa menemukanmu...
Karena kau terlihat berbeda..



Menelanjangi diri dengan dengan membasuh peluh
Kebodohan tak melakukan...
Apapun..
Diantara kaki langit dan bumi yang mengendap
Tenggelam dimakan waktu

Bersenandung mengikuti nyanyian pembuka langit
Tak mengerti yang disyairkan
Apapun..
Diantara nada-nada yang hilang
Akulah celah binasa...




Atas nama rindu yang tertunda dan waktu yang menyatu. Aku selalu mengagumi tetesan hujan yang jatuh. Mengintai pelan-pelan setiap jiwa yang berjauhan dan saling merindukan. Bahkan keajaiban memaksa keyakinan untuk tetap percaya.


Waktu, seperti anak kecil yang berpura-pura menangis meminta sesuatu pada ibunya. Merengek lalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Setelah itu, ceria datang dengan sendirinya, seolah tak pernah terjadi apa-apa.


Rindu dan Waktu menyatu, membungkus balutan hidup pada perasaan takut kehilangan. Menutup rapat menyembunyikan kewajaran. Mengurung logika dalam ketidakwarasan. Setelah itu jarak akan menjadi penyempurna semua ketersiksaan yang ditimbulkan. Perpaduan sempurna atas nama rindu dan waktu yang menyatu. Terkumpul menjadi sesak diantara ruas rusuk, seperti hujan yang tertahan dan hanya terdengar dari kejauhan. Aku menyebutnya, rindu...




26 Feb 2013





Kini aku butuh seseorang yang gagah untuk menamparku dengan keras. Aku rasa aku mulai tidak waras sayang, aku mulai kesulitan membedakan mana kenyataan, hidup impian, imaginasi atau cerita khayalan. Aku rasa begitu.

Kamu benar-benar kembali terjaga dear... :').

Jam sudah menunjukan pkl 23.00 WIB aku masih diperjalanan pulang, seperti janjiku sebelumnya, aku hanya akan pulang jika kota Paris sudah beranjak senja, karena aku percaya kamu akan bangun disana. Aku terus menanyakan kabarmu, tapi tetap tak juga siuman.
Aku mulai resah, takut-takut semua keyakinan ini tak terjadi. Ku minta sahabatku itu untuk menyanyikan sebuah lagu atau berkata apapun padamu, anggap saja itu aku. Dia setuju.

Waktu sudah menunjukan jam 00.00 WIB. 
"Berhasil akak, akhirnya mas mau, tadi Dd usir mba Ana, hek, sebentar, qt berdua di dlm,
dd pgang tgan mba, mas ngluarin apa yg ada dihati dia buka dialog yg qt mnta, mas menyanyikan 2 lagu dan di bait terakhir mba ngeluarin air mata, dan berbisik ntah bicara apa, kemudian mas membuka alatnya mba melihat dd akak...kemudian kata pertama yang di ucapkan 'nemo mana? Tadi dia disini?' ...Sempurna"
Pesan Dd kita yang aku terima. Kamu benar-benar pulang bersama senja itu sayang.

Dan tak lama, kita sudah kembali berbincang, suaramu masih sangat lirih, lemas, kamu siuman sayang.
Alhamdulillah...Ketika kita percaya dan meyakini sepenuh hati, maka keajaiban selalu bisa terjadi...seperti juga hari ini...Rindu dan semua hal yang terjadi beberapa hari ini, termasuk air mata yang tak terhenti, kini sudah terganti, terbayar impas. 

Lekas pulih sayang, kita lanjutkan pada muara rindu berikutnya...

Alhamdulillah...
Terimakasih ya Rabb...Kebahagiaan ini, tak terganti...kebahagiaan ini...entah bagaimana mengucapkannya...Terimakasih...



Kami berserah padamu..
Merajutkan sendi-sendi putus yang terpecah..
Menyulam cahaya bintang menghias malam..
Ajarkan pada kami cara terbang tanpa harus tenggelam..
Ajarkan pada kami cara meredam tanpa harus hilang..
Bimbing kami menuju senja yang sempurna ya Rabb...
Agar kami kembali bersama..

Sentuh Ia dengan belai kasihmu ya Rabb
Agar Ia terbangun dengan semua kebahagiaan Dan kesembuhannya..
Sentuh ia dengan rahmatmu ya Rabb
Agar Ia segera terbangun dan mewujudkan semua hal yang diimpikannya...


16:00 25 feb 2013




Kamu kenapa sayang? Kenapa tiba2 berteriak seperti itu, dokter kembali memeriksamu, dan syukurlah kondisi tubuhmu baik saja, mereka hanya tidak tau sampai kapan kamu akan terbaring...apa kamu sedang bersiap dear?....untuk senja ini...untuk terjaga seutuhnya..

Oia, aku sedang mencari gambar, aku kembali meneruskan hobiku ini, karena waktu itu kamu menanyakannya, dan aku jadi teringat kembali, hujan yang kusuka yang biasa kuabadikan. Untukmu dear...selain itu aku sudah tidak sabar menantikannya..senja..dan kuhabiskan waktu agar tak terasa..

Disini sudah jam 4 sore dear, dan masih ada sekitar 7 jam lagi hingga kamu siuman nanti, aku mau bilang apa y..aku masih belum tau, masih kupikirkan untukmu... :)

Apa boleh aku menawar waktu dear? Memajukan beberapa jam dari waktu yang telah diucapkan..karena aku sudah tidak sabar..menyambutmu datang....lekaslah siuman ...





25 Feb 2013





Tidak sabar menantikan senja tiba, karena kamu akan terbangun disana, tersenyum dengan indah dan menjadikan waktu kembali berjalan normal seperti biasa, dimana kebahagiaan-kebahagiaan sederhana muncul dengan sendirinya.

Ketidaksabaran ini, membuat jantung bergedup lebih cepat dari biasanya. Ya, dan disini masih pagi, jadi kurasa, aku akan pergi saja, dan ketika senja tiba barulah kembali, dan tentu saja...aku akan mengatakan sesuatu padamu dear..Tapi akan kupirkan terlebih dahulu kata apa yang akan kusampaikan. Ini hari yang sangat istimewa, aku tidak ingin melewatkannya tanpa sesuatu yang istimewa pula, seperti juga kehadiran kamu.

Wake up dear...kita habiskan satu hari lagi berbagi rindu itu, mungkin dengan begitu semua nya akan tampak sempurna...

Sampai bertemu dear...bersama senja...




"Cinta sejati tidak akan pernah mati..kalaupun tak dimiliki, maka ia akan tersimpan di tempat terbaik, di dalam hati"

- Ade S Wibawa -





Mulai nyalakan kembali..
Langkah yang terhenti..
Menyanyikan lagu riang atau sekedar duduk dibawah pohon rindang
Atau sekedar terus berjalan

Atau sekedar, untuk bernafas.....




Tak sabar kutunggu hari esok
Yang serasa lama dan tak dapat kugapai...

Tenangkan perasaanku..
Tenangkan perasaanku..
Sebaiknya ku cari..


Tenangkan perasaanku..
Tenangkan perasaanku..
Kan Kucari hingga dapat...






23 Feb 2013 14:12 WIB





Kamu tau apa yang baru saja kamu lakukan? Lihat itu, bahkan kamu membuat aku semakin bingung, aku meyakini sepenuh hati bahwa itu tulisanmu, tak kuragukan sedikitpun, hanya saja aku sedikit terkejut mendapati tulisanmu itu, kurasa waktu nya yang cukup mengejutkan. Aku lega, tapi sekaligus......sebutlah apapun itu. Ingin sekali kutarik hidung mu itu agar kamu tau betapa perasaan ku ini menjadi campur aduk tidak karuan... :(

Singkronisitas yang terjadi yang membuatku percaya. Tak lama sebelum ini, Kawan ku itu mengirimkan sebuah email dan berkata: "aku tertidur kawan dan terbagun lagi, aku bermimpi kalo Ia mengatakan padaku  "senja di menara effel itu benar-benar indah ki,".

Sempat-sempatnya kamu melakukan itu???. Apa kamu tidak tau betapa kami sangat mencemaskanmu???. Kamu harus tau, aku tidak menangis lagi!. Bukan karena aku tidak sedih, tapi karena air mataku sudah habis kucucurkan semalaman. Dan kurasa Rifky juga begitu, bahkan tadi pagi kami saling mengakui bahwa malam ini kami begitu 'cengeng'. Dan semua alasan itu adalah Kamu!. Dd!. Gumiho-gumiho jelek yang membuat kami cemas tak karuan. 

Tuhan sudah dan selalu menunjukan kuasanya pada makhluknya, termasuk kita sayang, dan malam ini, hari ini, sekali lagi keajaiban terjadi, cerita ini, bahkan pertemuan denganmu pun adalah keajaiban bernama kebahagiaan tak terperi. Terutama setelah semua yang terjadi ini. Jangan khawatirkan aku disini sayangku, karena aku baik-baik saja, karena justru aku yang mengkhawatirkanmu, karena justru aku yang mencemaskanmu, satu-satunya hal yang dapat meredam semua itu adalah semua yang dijelaskan kawanku, aku percaya sepenuhnya padanya, aku percaya sayang, dan Rifky sudah melakukan banyak hal, sangat banyak hingga aku tak tau lagi bagaimana mengungkapkan terimakasih padanya. 

Allah..hanya Allah...karena Allah...Aku percaya sayang, bahkan cinta dan perasaan inipun karena dia, semua ketulusan ini karena dia, perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Betapa aku takut kehilangan kamu. Aku tidak ingin. 

Beristirahatlah sayang, berhentilah berjalan-jalan tanpa membawa serta tubuhmu itu, karena itu cukup menyeramkan, lihat wajah jelekmu itu, jika kamu melakukan itu lagi, kamu akan 100x lipat lebih jelek dari sekarang. Dan berhentilah bersikap keras kepala Ikan Mas Kepala Batu!. Bahkan Ana kamu buat terkejut ketika bangun dari tidurnya mendapati alat bantu pernafasan kamu terlepas. Jika kamu masih melakukan itu, kutarik hidungmu nanti!.

Setelah semua ini, semoga semuanya akan semakin membaik sayang, aku percaya itu, aku yakin itu, tugas kita adalah berusaha dan berdo'a, dan itu terus kita lakukan. Berserah padaNya menjadi satu-satunya hal yang harus kita lakukan. Aku bangga padamu sayang, aku percaya kamu kuat, aku percaya kamu bisa. Kamu punya aku sayang, kamu punya aku yang akan terus menunggu dan menjemputmu pulang. Dan banyak hal yang harus kita lakukan, termasuk merangkai hari indah itu. dan menikmati senja di bangku taman itu. Hanya kita berdua, dan untuk semua itu, kamu harus sembuh sayang, kamu harus melawan, kamu harus pulih. Aku menyayangimu tanpa bisa kujelaskan, aku memilihmu tanpa bisa ku paparkan. Karena bukan hanya aku yang menjadikanmu belahan jiwaku, tapi juga hatiku. Dan beruntungnya aku, hatimu melakukan hal yang sama...I love you dear....Lekaslah sembuh dan berhentilah berkepala batu, agar kau sembuh seutuhnya....


I miss you Ikan Mas...





Di garis ini kita menentukan ujung
Kanan..Kiri
Arah tak ada lagi...
Yang ada hanya bentangan garis lurus
Dan suara yang memanggil dari kedua sisi

Pilihlah sayang...
Aku menantikan...aku mendo'akan..
Pilihlah sayang...
Untuk tetap berjuang...untuk tetap bertahan..
Aku, masih menantikanmu pulang.....





"Pada akhirnya, cepat atau lambat, kita akan kehilangan, maka mencintalah karena Tuhan"

- Ade S Wibawa -



Jakarta, 22 Feb 2013





Aku melihat senja dipagi hari
Ketika kemarau menepi menjejak lagi
Kamu sudah disana lengkap dengan senyuman
Tahukah apa lagi yang kulihat?
Ya, pelangi di malam hari...
Dan kali ini diceritakannya padaku tentang sebuah kisah, kamu mau dengar?

Seekor Coro, Putri dan Bunga Lili.

Suatu hari Putri terbangun dari tidurnya, dan seperti biasa Coro sudah berada di balik celah meja memperhatikan putri cantik pujaannya. Mendambakannya bahwa suatu hari Putri itu bersedia menghampirinya. 

Putri beranjak dari tempat tidurnya, matanya masih sayu menahan kantuk, dia harus segera pergi ke meja makan untuk sarapan. 

Di tempat lain, bunga lili tersenyum melihat tingkah Coro yang setiap pagi dilihatnya selalu berada di tempat yang sama. Dia mengintip dari jendela, terletak di antara rerumputan diluar rumah. Segaris dengan kamar Putri. Jika Putri tau keberadaannya, mungkin dia sudah memetiknya, karena dia begitu menyukai bunga Lili, dan Coro tau semua hal tentang putri, termasuk semua hal tentang kesukaannya.

Sebentar lagi  mungkin bunga Lili tiba pada waktunya layu, kering lalu hilang. Coro selalu datang membawakan setetes air dan duduk mendengarkan semua yang diceritakan. Mereka berkawan.

"Ikatkan benang itu pada tangkaiku". Bunga Lili berkata pada Coro.
"Tapi nanti kau akan ketahuan, dan dipetik ole putri". Coro tidak mau.
"Tidak apa-apa, apalah artinya, sebentar lagi aku layu dan hilang dilahap bakteri lalu melebur menjadi tanah, aku tidak ingin hilang sia-sia". 
"Putri pasti akan senang dengan pemberianmu, kau hanya perlu meletakkan benang itu di hadapan Putri agar dia dapat mengetahui letakku. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Bukankah kau ingin Putri senang?". Bunga Lili tak mau menyerah.
Coro mengerti. Sebuah pelukan mengantarkan mereka pada sesuatu yang bernama....'perpisahan'.

Sang putri pergi kekamar mandi, mengenakan handuk baju berwarna putih. Coro kembali kekamar putri, kali ini dengan sebuah untaian benang tali di tangannya. Helai benang itu terulur hingga ke tempat Bunga Lili berada.

Setengah jam berlalu, Coro sudah mengambil posisi tepat di depan pintu kamar mandi. Air keran terdengar sudah dimatikan. 

Sang putri teriak sekencang-kencangnya, Dia datang menghampiri Coro, Coro tersenyum menyambut sang Putri. Kebahagiaannya memuncak. Sang Putri semakin dekat, diambilnya sendal yang dikenakannya. "Plakk". Sebuah hantaman tepat melahap tubuh Coro. benangnya terlepas, tubuhnya hancur. Selang beberapa lama Putri kembali tenang. Dia membuang sisa-sisa tubuh Coro dengan sebuah hentakan kaki. 

Putri sudah selesai berdandan. Dia berjalan perlahan menuju keluar kamar, dan dibeberapa langkah awal dia mendapati sebuah untain benang yang cukup panjang, melintas melewati jendela menuju halaman samping, tepat di depan jendela kamarnya. Diikutinya untaian benang tali itu. Dia tersenyum riang. Berjingkrak menemukan bunga Lili yang disukainya. Dipetiknya bunga Lili dengan penuh suka cita. Dibersihkannya sisa-sisa debu yang ada. Ditaruh di dalam pas bunga. Putri pergi menyelesaikan urusannya.

Senja berlalu, Putri akhirnya kembali kekamarnya. Dia benar-benar lelah. Sepatunya masih dikenakannya. Hanya tas nya yang diletakan. Putri terpejam.

Satu jam kemudian. Ibunya datang membangunkan. 
"Sayang, ayo makan malam dulu".
Dimeja makan, seluruh anggota keluarga kecil itu sudah menunggu.

"Ibu, aku bermimpi, ada seorang pangerang, bernama Coro, datang membawakanku setangkai bunga Lili".




Bebas.
Terbang tanpa sayap tanpa batas
Tak takut terjatuh atau terlindas
Semua sudah lepas

Bebas.
Memaklumi semua hal yang tak mungkin memehami
Tak perih tak bersedih
Semua sudah pulih

Bebas.
Meneriakan apapun yang dihimpun hati
Memaafkan biduri keindahan
Semua ingin di perhatikan

Bebas.
Lihat langkahku
Mendaki awan menaiki hujan
Tersenyum dan melupakan
Menerima dan memahami cerita yang bahkan tak perlu didengar
Karena tempatnya begitu tinggi untuk digapai
Semua sudah pada arahnya
Semua sudah aku maafkan



Teruslah berjalan, tak perlu memperhatikan kerikil kecil yang tak dapat dijadikan pijakan, karena sakit yang ditimbulkannya akan tetap dengan rasa yang sama, maka jikapun harus begitu, lakukanlah dengan langkah yang besar. 



Diruang dingin dengan sebuah jendela yang terbuka
Menampakan tanaman dan bunga dengan banyak warna
Menjadi satu-satunya penghibur yang ada dalam alunan suara lirih
Kakiku bahkan belum mampu menopang berat tubuh untuk berjalan

Tahukah kau bahwa aku terkurung rindu?

Setetes embun yang membasahi pipi mengungkapkannya
Ternyata itu air mata yang berlinang

Aku masih di tempat yang sama dan terus memikirkanmu..

Menghidupi diri dengan harapan..
Memupuknya dengan menyulam impian yang diidamkan..

Kita masih berada di satu titik yang sama
Entahlah, jarak memisahkan
Waktu tak mempertemukan
Tapi aku dimabuk rindu yang mencekam
Aku masih berada di satu titik yang sama..
Di satu titik yang tak beranjak...







Sudah....
kuceritakan kerikil yang sering mengusik mataku hingga berlinang..
tapi selalu kubersihkan agar tak ada yang melihatku seolah menangis...
tapi kenapa harus masuk menggantikan pedih yang sama...

Sudah....
kuceritakan kisah penuntun pilu yang kurapikan pada waktu yg terlewatkan...
tapi selalu kukenangkan agar tak ada yang memperhatikan seolah aku mengingatnya...
tapi kenapa harus menceritakan perulangan seolah kisah itu masih tersisa...

Sudah.....
kuceritakan tentang cara malam yang menjatuhkan...
tak ku berikan ruang sedikitpun pada penglihat lain...
dan selalu tercatat meski tak pernah kuutarakan...
tapi kenapa harus menulis prasasti yang menjatuhkan air mata...

Sudah....
kupersembahkan langkah terbaik yang tak biasanya ku lantunkan...
tak ku tunjukan pada pengharap lain walau terbinasa...
kusuguhkan meski tak pernah tersandarkan agar tersampaikan pesan ketulusan...
tapi kenapa harus menyangkalnya dengan kata2 yang tak seharusnya terdengar...

Mungkin...
waktu yang menjadikanku pendosa yang menjalani hukuman...
berkutat dengan genggaman yang tak ingin kulepaskan...
terdiam pada tempat yang tak ingin kutinggalkan...
hanya mengharapkan waktu berhenti berputar agar kebersamaan tak terhabiskan....



Malam menjatuhkan air mata karena aku bertanya...
mungkin sedikit menyalahkan langkahnya mengabaikan,...
kupikir akan terlewatkan begitu saja...
tapi ternyata siangpun tersedu karena aku memperhatikan..

Mencoba menggali pasir dengan kelopak mata...
untuk mempertegas garis halus perumpamaan keharusan...
pedoman langkah ketika aku kehilangan arah..
ternyata pedih...dan bukan hanya aku yang merasakannya...

Bukan seperti itu...
serabut senyum yang ingin kurapikan...
bukan seperti itu...
biduri malam yang kudiamkan...

Mungkin bait sederhana ini akan tetap seperti seharusnya...
menggantikan setiap langkah yang tak dapat kuutarakan...
bukan tak ingin...
setiap kali mencobanya, awan selalu mendung lalu menjatuhkan tangisan langit..
dan aku?...terdiam, terjebak tak tersisa...
tak mampu melangkah sedikitpun terhalang tangisan itu...

Mungkin terlalu kuat menjaga lukisan tak bertepi...
hingga terkadang tak terlihat jelas keindahan yang seharusnya tampak...
sebaiknya tetap memperhatikan dari jauh saja..
dan mempercayakannya pada angin pembawa pesan...
ya...harusnya malam tetap dengan malam nya saja...
dan langkah, tak harus terbebani cerita untuk bersama...
maaf...untuk semua kata yang tak terucap..
dan untuk hari-hari yang terlewatkan dengan terurai air mata yang kusebabkan...



Mungkin terbiasa menghitung detak jarum jam dan lalu terkesima dan tertidur pulas, hingga pagi membangunkan. Padahal jika saja tegas berbicara pada yang tak berhak, akan memudahkan setiap langkah. mungkin terbiasa membuka keluhan terjaga pada penglihat yang tak seharusnya, hingga pagi menjelang, Padahal jika saja lugas menentukan pada yang tak berhak, akan memperindah setiap langkah. mungkin terbiasa mengurung suara hati dan lalu terlelap didalamnya, hingga pagi membiasakan, Padahal jika saja teguh pada ucapan dan menghindar dari pendongeng yang tak berhak, akan kurindukan setiap langkah

Kini tak lagi, kebebasan hati hanya didapat dari tingkat anak tangga yang berbeda, agar tak tersakiti ataupun kecewa, maka jangan bersedih ketika aku melangkah satu tempat lebih tinggi dan tak dapat kau jamah lagi untuk bersedih.





Kita adalah sepasang sayap..
Yang tak mungkin terbang sendirian..
Yang merasakan sakit  jika salah satu dari kita merasakan sakit
Yang akan ikut terjatuh jika salah satu dari kita terjatuh
Yang tak mungkin mengepak jauh tanpa saling utuh...

Kita adalah sepasang sayap...
Yang saling mengawasi dari tempat masing-masing
Yang akan menggenggam untuk saling menguatkan
Yang akan bertahan untuk saling menopang...

Kita adalah sepasang sayap..
Yang dipertemukan dengan cara yang tak terpikirkan...

Kita adalah sepasang sayap....







Dipersimpangan jalan mereka berdebat menentukan arah yang akan mereka lalui...
"Ke kanan saja".
"Tidak! Ke kiri saja".
"Jangan! Ke kanan saja"..
"Tidak! sebaiknya kau ke kiri saja"...
Perdebatan yang mengakar pada kelakar...

"Kenapa tak kita coba keduanya?".
Salah satu dari mereka memberikan saran.

Sang waktu menjawab:
"Karena kau hanya hidup satu kali!"....




Senja di musim hujan menjadi temaram seperti langit malam. Membasuh diri dengan usapan butir lembutnya, sejuk, hanya melanjutkan hidup. Di sisi seberang, sebuah pohon hanya melambaikan dedaunan. Mencoba berbicara dalam bahasa yang tak dimengerti. Mungkin mereka mencoba mengingatkan.

Tak perlu menunjukan apapun! karena hal seperti itu hanya akan membuat langkah terlihat tak seharusnya, bahkan hanya akan membuat sebagian dari mereka merasa aneh dan menjauhi kepatutan bagi sebagian lainnya. Maka izinkan saja aku tersenyum dalam diam. Mematuhi dunia yang berlari-lari dalam pikiran. Toh mengungkapkannya hanya akan membuat sebagian mengerti dan sebagian lainnya tidak, memberikan pemakluman dalam berbagai cara yang sebaiknya tak diutarakan.

Tak perlu menunjukan apapun! karena pada akhirnya, hal seperti itu akan membuat dunia yang diimpikan dengan sangat luas hanya berwujud sebesar kotak sabun. Tidak. Aku tidak mau. Dan diam menjadi satu-satunya tempat terbaik untuk menjaga semua kemungkinan itu tetap ada. Jangan!. Jangan samakan diam lisan dengan langkah tanpa tindakan. Sungguh. Karena hal itu tak memiliki kesamaan.

Aku teringat pada waktu itu, meskipun tak tau pasti kukejar. Meskipun sangat membantu. Namun hari esok yang serasa lama dan tak dapat kugapai. Izinkan saja aku. Diamku. Karena aku, hanya ingin membiasa.








Kamu berdiri dihadapanku, tepat disitu, "hei..kemarilah.." aku memanggilmu, tapi sepertinya kau tak mendengar,...karena ternyata, kita dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh...waktu yang menahun...

Langit masih gelap, bukan karena matahari lupa ingatan atau terlambat terbit, tapi karena awan sedang beriringan menjelaskan bahwa mereka tak sedang ingin saling mendahului. Kita masih duduk di tepi jendela yang terbuka, menatap dunia yang ingin dijelajahi dari balik jendela itu, tapi semua masih tampak sama. Dingin.

Hujan sepertinya akan segera tiba, dan seperti yang biasa kita lakukan untuk menyambutnya, ah, tentu saja, aku tidak akan mengatakannya disini. Benar saja, mereka menderas pelan, lalu beramai-ramai menjadi selimut kita yang semakin merasakan dingin. Dentingannya terus tercurah mengusap atap dan semua daun yang dihinggapinya, menelanjangi waktu yang seolah berjalan lebih lambat, dan dimensi kita menjadi terasa amat dekat tak berjarak. Ya.., kau dan aku.

"Apa kamu tidak bekerja hari ini?" suara lembutmu seperti menyadarkan lamunanku, "Iya sayang, sebentar lagi, aku masih ingin tinggal lebih lama disini, di dalam pikiranku sendiri, bersama kamu, bersama hujan".

"Apa kau ingin minum kopimu secangkir lagi?". Tidak sayang, terimakasih, lagipula, kau tak mungkin mengambilkannya untukku. lalu setelah itu kita hanya saling tersenyum. "Apa kau tak percaya aku bisa mengambilkannya untukmu sayang?" wajahmu semakin tersenyum seolah ingin membuktikan bahwa semua ketidakmungkinan itu menjadi kenyataan. 'Tentu sayang, jika kau pikir Tuhan mengijinkannya'.

*****

Lorong-lorong yang kulewati seperti kota mati yang tak berpenghuni, hanya beberapa petugas yang sedang berjaga sesekali tampak berkeliling, suasana seperti itu...sebutlah apapun itu, menarik ingatan pada waktu yang tlah lalu, dan kau ada didalamnya. Kita menuju anak tangga yang sama untuk kita lewati dan tiba di tempat yang lebih tinggi agar melihat dunia lebih luas dari biasanya. Dan kini, aku mendapati bahwa ternyata aku hanya sendiri.

Seperti juga malam itu, ketika semua kebahagiaan hidup yang baru tumbuh diantara kita harus kita relakan pada rangkulan lengan takdir yang ditetapkan, tak ada pertanyaan apapun pada Tuhan, kita hanya saling merelakan.

Meski tak berselang lama kita kembali dipersatukan, tapi sepertinya Pelukis Malam sedang ingin menyaksikan diorama yang berakhir pilu, atau mungkin itu caraNya memuluskan kutulusan yang harus dibuktikan. Tak sedikitpun kita mengeluh pada keadaan, dan kita hanya saling merelakan keadaan.

Sakitmu adalah sakitku, karena sebagian dari dirimu adalah sebagian dari diriku. Disetiap malam yang kita lalui dengan rasa cemas karena tak tau sampai kapan semua nyeri itu reda, kau hanya memintaku untuk berbicara lebih banyak, setidaknya itu bisa membuatmu lupa, begitulah yang kau katakan. Meski sebenarnya, kita hanya salin membodohi diri dengan teori itu, sesuatu yang tak pernah kita buktikan kebenarannya. Untuk menjadi apapun yang kita inginkan, kita hanya perlu membiasa, bukan begitu sayang?. "iya, dan kita akan membiasa lalu menjadi apapun yang kita inginkan", kau berlalu dangan secangkir kopi hitam yang kau siapkan untukku.

"Sayang aku mau coto!". Pintamu dengan wajah khasmu ketika menginginkan sesuatu. hei, bicaranya jangan seperti anak TK sayang!. Aku berlalu sambil tersenyum. "Ih...di tempatku memang namanya coto sayang!". Apakah kamu harus berbicara dengan kata itu?. "Sayang...memang namanya, COTO!". Wajahmu semakin lucu ketika sedang kesal. Baiklah sayang, mari kita makan SOTO!.

*****
Hujan ini masih tak juga reda, menancapkan pikiranku yang tertuju padamu, tak sedetikpun kulepaskan pandangan ini dari sosokmu, gaun putih yang kau kenakan semakin meyakinkanku bahwa kau adalah putri pelangi yang dikirimkan Tuhan. Yang harus kulihat dengan melewati hujan terlebih dulu, pelangi dengan banyak warna kecuali abu-abu, kau adalah kejelasan tak bersyarat yang melingkarkan kebahagiaan pada tubuhku. Mungkin, kau memang himpunan hujan yang disederhanakan bernama keindahan.

Kau masih tersenyum sambil bersandar dibahuku, awan gelap yang kita pandangi bersama tampak semakin memudar, entahlah, rasa kehilangan itu semakin menakutkan, dan kau tampak seperti baik-baik saja, ya, benar, seseorang yang datang adalah seseorang yang akan pergi meninggalkan. "Sayang, sepertinya Tuhan mengijinkannya, mengambilkan secangkir kopi lagi untukmu". Apa kau sedang bercanda sayang? aku balik bertanya. Kau semakin tersenyum seolah ingin membuatku takut dengan kenyataan itu. "Yasudah, biarkan saja, biarlah tetap seperti ini, aku masih ingin bersandar dibahumu". Rangkulan tanganmu semakin erat seolah tak ingin melepaskan, padahal sebentar lagi kita akan sama-sama beranjak saling menghilang. Kita, sama-sama saling terpejam menghadap hujan. Ya, kita sama-sama terpejam.
*****

Reda sudah. Aku membuka mataku. Mengusap linangan air mata yang sedari tadi ternyata sudah tercurah. Menahan sakitnya kehilangan. Meneriakkan kekosongan yang mengenggelamkan semua hal yang tak lagi sama. Dan secangkir kopi ini menjadi bukti bahwa kau memang hadir disini. Menemaniku bersama hujan, seperti yang telah kau janjikan. Kita, telah saling membagi beban dengan tak saling melupakan. Kau telah kembali ke tempatmu, dan aku, masih berada disini, di tempat yang terlalu lama untuk disebut sebagai tempat bermain. Dan aku harus menunggu setengah musim kedepan agar dapat melihatmu. Dalam Pikiranku. Karena mungkin, ini adalah hujan terakhir yang kita bagi di musim penghujan kali ini. tidakkah kesatria terbaikpun berhak untuk berdarah?. Tunggu saja kedatangku sayang, karena sebelum itu, aku harus menuliskan namamu terlebih dahulu di sebuah bangku taman yang menghadap ke sungai yang disampingnya ada sebuah lampu, dikota itu. Paris. Seperti impianku. Dan disana kita akan bertemu untuk terakhir kalinya sebelum bersama lagi di keabadian.


Bersama hujan, aku mengumandangkan do'a-do'a yang tak pernah kuceritakan....
Membagi waktu bersamamu...di dalam pikiran...
Menemukanmu dalam keindahan senyum...
Meski harus menunggu semusim lagi...aku tetap akan melakukannya...
Karena apapun itu..kau akan tetap hidup dan terkenang..
Hingga kita berdua yang akan menjadi sebait cerita yang bernama kenangan itu....
Mengenalmu, adalah cara Tuhan menunjukan keAgungan...
Dan disampingmu, adalah cara ku mewujudkan semua impian......


10:21 am
-ASW-



Ketika kita tiba pada suatu titik, kita selalu memiliki pilihan untuk berhenti atau melanjutkan. Dan 'melanjutkan' selalu memberikan arti lain dari sebuah usaha yang di serahkan pada pelukis langit, termasuk juga do'a-do'a yang sepertinya tidak mungkin tapi begitu diinginkan. Tapi bagi Tuhan, ketidakmungkinan adalah ketiadaan.

Selasa. Hari kedua ketika hitungan waktu dimulai dari senin. Hari dimana Tuhan semakin meyakinkanku bahwa "tak ada do'a yang tak terkabulkan" meski dengan cara-cara yang agak sulit untuk dipahami, tapi sebetulnya semua itu ada.

Beberapa minggu lalu aku pernah berujar, bahkan masih di tempat yang sama. Tuhan aku ingin Morrie, aku ingin seorang Morrie! begitulah kira-kira. Dan hari ini, Tuhan benar-benar mengirimkannya. Seorang Morrie dengan segala keunikannya, dia biasa menggunakan Topi koboi dan sepatu sport, geraknya lincah seperti masih seumurku padahal usianya sudah diatas setengah abad. Dia selalu menyapa "Helloo...""jeeet iiitttt?" kalimat 'Did you eat' yang hampir tersamar oleh keunikannya". Kalimat yang selalu menjadi ciri khasnya ketika menyapa di depan pintu ruangan kerjaku. Acara kesukaannya adalah Three Stogees, komedi lawas entah tahun berapa, dimana gambar yang ditampilkan hanya berwarna Hitam dan Putih. Mr.Sugeng. Aku biasa memanggilnya Sensei Dia benar-benar seperti do'a yang terjawab. Proffesor Morrie versiku sendiri. Sebutlah apapun itu, karena aku sedang menjalani hidup impianku. Seperti juga tempat ini. Karena Dimata Tuhan, tidak ada yang datang terlalu cepat atau terlalu lambat, yang ada hanya tepat!.


Thuesday 15 01 2013


Ternyata, kita hidup dan tinggal di dunia yang disekat-sekat. Diberi label dan dikelompokan berdasarkan entah apa namanya. Bahkan kebebasan sudah tak lagi menjadi kebebasan jika itu sudah menjadi keharusan.


Diberdayakan oleh Blogger.