Pengalaman mengajarkan segalanya, begitu kira-kira yang semesta bicarakan dan sampai juga terdengar. Selalu yang menjadi kesulitan tersukar adalah bait pertama dan bait terakhirnya. Karena dari sanalah cerita dimulai dan diakhiri. Kebiasaan lain nya adalah,...tak ada apapun di bait pertama, tidak juga di bait terakhirnya.
Dalam kontradiksi antara hati dan pemikiran yang kadang kala tidak selalu sesuai dan membuahkan perasaan-perasaan yang terbawa dari kisah yang sudah-sudah, Sekelebat, selalu ada. Mengingatkan kembali bahwa sakit adalah sakit, bahagia adalah bahagia, menjadi tidak lagi logis karena Sekelebat itu mencampuradukkan keduanya. Hingga di titik ini, sebagian menyerah lalu membuka kembali kenangan-kenangannya dimasa-lalu yang susah payah coba dilupakannya, sebagian lainya acuh-tak-acuh menenangkan hatinya dan tetap melangkah.
Di Sekelebat itu, wajah-wajah pembuat perumpaan hidup muncul, di Sekelebat itu, cerita-cerita menyakitkan tercampur-aduk dengan kerinduan dari sebagian sisi menyenangkannya sehingga dengan mudah hati memaafkan dan menganggap bahwa segala sesuatunya bisa dimulai kembali. Lalu yang terjadi setelah itu, adalah perulangan rekursif yang tak henti-hentinya menatar dan menciptakan penyesalan-penyesalan baru ketika kita memutuskan untuk menyerah. Maka syukurilah. Atau segalanya benar-benar berakhir sudah.
Senja di musim hujan menjadi temaram seperti langit malam. Membasuh diri dengan usapan butir lembutnya, sejuk, hanya melanjutkan hidup. Di sisi seberang, sebuah pohon hanya melambaikan dedaunan. Mencoba berbicara dalam bahasa yang tak dimengerti. Mungkin mereka mencoba mengingatkan.
Tak perlu menunjukan apapun! karena hal seperti itu hanya akan membuat langkah terlihat tak seharusnya, bahkan hanya akan membuat sebagian dari mereka merasa aneh dan menjauhi kepatutan bagi sebagian lainnya. Maka izinkan saja aku tersenyum dalam diam. Mematuhi dunia yang berlari-lari dalam pikiran. Toh mengungkapkannya hanya akan membuat sebagian mengerti dan sebagian lainnya tidak, memberikan pemakluman dalam berbagai cara yang sebaiknya tak diutarakan.
Tak perlu menunjukan apapun! karena pada akhirnya, hal seperti itu akan membuat dunia yang diimpikan dengan sangat luas hanya berwujud sebesar kotak sabun. Tidak. Aku tidak mau. Dan diam menjadi satu-satunya tempat terbaik untuk menjaga semua kemungkinan itu tetap ada. Jangan!. Jangan samakan diam lisan dengan langkah tanpa tindakan. Sungguh. Karena hal itu tak memiliki kesamaan.
Aku teringat pada waktu itu, meskipun tak tau pasti kukejar. Meskipun sangat membantu. Namun hari esok yang serasa lama dan tak dapat kugapai. Izinkan saja aku. Diamku. Karena aku, hanya ingin membiasa.
Ketika ada seseorang menyuruhmu untuk berhenti, atau menunjukan ketidak-senangannya atas apa yang sedang kau usahakan, maka melajulah, jangan pernah Berhenti, kecuali atas kehendakmu atas pilihanmu, karena itulah yang mereka ingin lihat darimu. Ketika seseorang menertawakan mimpi-mimpimu, berjuanglah, lukai harga dirimu untuk membesut laju yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Itu yang selalu kulakukan. Aku sedang belajar sesuatu. :)
| the first pizza i made.. |
Pizza pertama yang gue buat untuk pertama kalinya seumur hidup, dicicipi oleh semesta, sahabat dan partner terbaik gue, dan kali ini dia mewujud sebagai orang-orang terpenting dalam hidup, pemilik sudut, keponakan-keponakan yang selalu menjadi salah satu alasan utama mewujudkan mimpi.
| Lewat pembiasan, kotak pengap itu menjadi hangat.. |
Kita adalah himpunan dari berbagai macam cerita yang adakalanya saling beririsan, membaur dan harus menyatu untuk saling melengkapi. Meskipun begitu, irisan-irisan itu adakalanya hanya sebuah pilihan. Pilihan untuk memperhatikan saja atau menjalani 'keparalelan' yang penuh basa-basi.
Menjadi penyendiri di tengah keramaian, Memilih sunyi diantara kebisingan, bukan karena pemalu atau tak ingin menyatu, adakalanya, diam dan memperhatikan, menjadi jalan terbaik dalam ketidaktauan dan kemuakan akan semua perumpamaan yang disampaikan seolah-olah saling mengerti dan memahami, padahal hanya mengaktifkan bom waktu yang seuatu saat akan membuyarkan semua yang telah dibangun itu begitu saja. Sekejap.
Introvert. Sebutlah apapun itu. Minoritas dalam dunia yang kubentuk, memahami dunia apa adanya tanpa harus berselimutkan pengandaian yang tak seharusnya. Memang, adakalanya kita tak harus selalu seperti itu, tapi kita juga memiliki pilihan untuk jujur apa adanya atau bahkan hanya sebatas diam pada ketidak-setujuan itu.
Minum secangkir kopi di pagi hari, atau bercerita pada orang-orang terpilih untuk diikutsertakan, dan tentu saja, orang-orang itu dari berbagai macam cara untuk ditemukan, dan hanya mereka yang bisa memahami tanpa bertanya. Masih kupercaya masih ada banyak untuk ditemukan. Kesejatian yang mengantarkan pada kemaklukman dan jangka waktu yang sangat lama.
Bayangkan, dipagi hari kau sudah harus mendengar ocehan ini-itu tanpa jelas maksudnya, tanpa ada isi terkandung didalamnya, hanya uraian ngalor-ngidul tanpa pesan apapun, lalu berkumpul dengan orang-orang yang kau anggap teman, lingkungan sosial yang berjubel, mereka itu yang kau anggap "sahabat" terdekat, padahal mereka itu yang menertawakan mu ketika terpuruk jatuh kelembah yang dalam, atau kalau kau beruntung mereka hanya menghindar diam seolah kau ini adalah makhluk bervirus penyebab penyakit menular yang mematikan. Kita memang bebas memilih. Termasuk juga kita dalam pilihan itu.
Sebutlah apapun itu, tapi rasanya, beberapa orang saja sudah cukup, meski kadang 'seleksi alam' tak bisa dihindarkan. "Banyak" juga tak berarti apa-apa.
Dengan begitu rasanya sudah cukup lama menjadikan diri sendiri merasakan bebas nya terbang atau nikmat tak terhingga hanya dari segelas kopi yang bahkan berampas pahit. Toh masing-masing dari kita memiliki caranya masing-masing untuk pilihan dan kebahagiaan, setelah kucoba ini-itu, menjajaki berbagai macam cerita atau pengkarakteran yang tak seharusnya. Menyisakan prasasti yang cukup beruntung jika terbaca sepenuhnya. Dan disinilah akhirnya semua bermuara. tempat dimana aku bebas berbicara dengan diriku sendiri, tempat dimana aku menatap seseorang di dalam cermin dan selalu melegakan karena bayangan itu adalah diriku sendiri, bukan orang lain, tempat dimana aku diam tanpa dipertanyakan, tempat dimana orang-orang yang kupilih untuk berbagi, yang bercerita apa-adanya dalam berbagai cara selain-kata-kata saja.
Rasanya, tak ada lagi tempat terbaik selain dunia hening ini, tempat dimana aku menyaksikan banyak peran, pemeran figuran, pemeran utama, antagonis, protagonis, orang gila, orang waras, orang jujur, orang dengan penuh omong kosong tak bermakna, orang yang menasehati tapi dirinya sendiri lebih butuh nasehat itu, bahkan orang kepepet yang selalu berbohong untuk menutupi kelemahannya. Aku bahagia bukan karena menertawakan penderitaan semacam itu, tapi peran-peran yang kusaksikan itu menjadikanku penonton yang bisa duduk manis dalam diam menyaksikan betapa ketidaksinambungan dan ego berdampak besar untuk jalannya cerita. Skenario yang terjadi begitu saja, mengalir seperti sungai yang mual lalu memuntahkan setiap yang dikandungnya. Aku satu-satunya manusia 'normal' didunia hening ini, dan mereka menganggapku satu-satu nya manusia yang 'tidak normal' di dunia mereka, begitulah penilaian yang sering kita teriakkan pada orang lain. padahal masing-masing dari kita, disadari atau tidak, memiliki Dunia di dalam pikirannya masing-masing. Sebutlah apapun itu...
