Sudah....
kuceritakan kerikil yang sering mengusik mataku hingga berlinang..
tapi selalu kubersihkan agar tak ada yang melihatku seolah menangis...
tapi kenapa harus masuk menggantikan pedih yang sama...

Sudah....
kuceritakan kisah penuntun pilu yang kurapikan pada waktu yg terlewatkan...
tapi selalu kukenangkan agar tak ada yang memperhatikan seolah aku mengingatnya...
tapi kenapa harus menceritakan perulangan seolah kisah itu masih tersisa...

Sudah.....
kuceritakan tentang cara malam yang menjatuhkan...
tak ku berikan ruang sedikitpun pada penglihat lain...
dan selalu tercatat meski tak pernah kuutarakan...
tapi kenapa harus menulis prasasti yang menjatuhkan air mata...

Sudah....
kupersembahkan langkah terbaik yang tak biasanya ku lantunkan...
tak ku tunjukan pada pengharap lain walau terbinasa...
kusuguhkan meski tak pernah tersandarkan agar tersampaikan pesan ketulusan...
tapi kenapa harus menyangkalnya dengan kata2 yang tak seharusnya terdengar...

Mungkin...
waktu yang menjadikanku pendosa yang menjalani hukuman...
berkutat dengan genggaman yang tak ingin kulepaskan...
terdiam pada tempat yang tak ingin kutinggalkan...
hanya mengharapkan waktu berhenti berputar agar kebersamaan tak terhabiskan....



Malam menjatuhkan air mata karena aku bertanya...
mungkin sedikit menyalahkan langkahnya mengabaikan,...
kupikir akan terlewatkan begitu saja...
tapi ternyata siangpun tersedu karena aku memperhatikan..

Mencoba menggali pasir dengan kelopak mata...
untuk mempertegas garis halus perumpamaan keharusan...
pedoman langkah ketika aku kehilangan arah..
ternyata pedih...dan bukan hanya aku yang merasakannya...

Bukan seperti itu...
serabut senyum yang ingin kurapikan...
bukan seperti itu...
biduri malam yang kudiamkan...

Mungkin bait sederhana ini akan tetap seperti seharusnya...
menggantikan setiap langkah yang tak dapat kuutarakan...
bukan tak ingin...
setiap kali mencobanya, awan selalu mendung lalu menjatuhkan tangisan langit..
dan aku?...terdiam, terjebak tak tersisa...
tak mampu melangkah sedikitpun terhalang tangisan itu...

Mungkin terlalu kuat menjaga lukisan tak bertepi...
hingga terkadang tak terlihat jelas keindahan yang seharusnya tampak...
sebaiknya tetap memperhatikan dari jauh saja..
dan mempercayakannya pada angin pembawa pesan...
ya...harusnya malam tetap dengan malam nya saja...
dan langkah, tak harus terbebani cerita untuk bersama...
maaf...untuk semua kata yang tak terucap..
dan untuk hari-hari yang terlewatkan dengan terurai air mata yang kusebabkan...



Mungkin terbiasa menghitung detak jarum jam dan lalu terkesima dan tertidur pulas, hingga pagi membangunkan. Padahal jika saja tegas berbicara pada yang tak berhak, akan memudahkan setiap langkah. mungkin terbiasa membuka keluhan terjaga pada penglihat yang tak seharusnya, hingga pagi menjelang, Padahal jika saja lugas menentukan pada yang tak berhak, akan memperindah setiap langkah. mungkin terbiasa mengurung suara hati dan lalu terlelap didalamnya, hingga pagi membiasakan, Padahal jika saja teguh pada ucapan dan menghindar dari pendongeng yang tak berhak, akan kurindukan setiap langkah

Kini tak lagi, kebebasan hati hanya didapat dari tingkat anak tangga yang berbeda, agar tak tersakiti ataupun kecewa, maka jangan bersedih ketika aku melangkah satu tempat lebih tinggi dan tak dapat kau jamah lagi untuk bersedih.


Diberdayakan oleh Blogger.