Pada akhirnya...
Yang membantumu mengatasi rintangan bukanlah otak
Tapi seseorang yang akan menemanimu, menggandengmu, dan tak akan melepaskanmu
Itulah keluarga
Bahkan bagi pahlawan, tempat mereka kembali pada akhirnya adalah keluarga

Luka yang kau dapat di luar rumah
Dan luka yang kau dapat dari hidup itu sendiri dan bahkan kepedihan yang kau dapat dari keluargamu
Orang-orang yang akan bersamamu sampai akhir, pada akhirnya itulah keluarga



Hujan menjadi nyanyian langit,
Yang bersenandung lirih bagi mereka yang berjauhan dan saling merindukan
Meski begitu,
Sampaikanlah bahwa kita akan bertahan...

Walau dingin menjadi selimut kenangan,
Yang mendekap hingga ke sendi-sendi penyesalan
Meski begitu,
Sampaikanlah bahwa kita akan bertahan...

Pergi, hanya untuk mereka yang tak memiliki keberanian
Keberanian untuk menerima bahwa yang terbaik adalah apa yang Tuhan berikan...
Maka dari itu...
Sampaikanlah bahwa kita akan bertahan...

Karena pada saatnya nanti,
Impian akan tiba pada muasalnya diimpikan
Dan pada saatnya nanti,
Kita adalah apa yang kita impikan

Maka...
Sampaikanlah bahwa kita akan bertahan.....





Panggilan telpon terus berbunyi, tapi aku tidak ingin mengangkatnya sama sekali. Karena bagiku, orang yang mampu membohongi orang yang paling dicintainya dikebohongan sekecil apapun, memiliki potensi melakukan hal-hal paling tidak mungkin untuk mendapatkan segalanya demi memastikan segala sesuatunya searah dengan semua yang diinginkannya. Padahal dalam hidup, beberapa hal hanya perlu kita terimakan apa-adanya. Tanpa syarat apapun. Cinta, sudah memiliki hukum-hukumnya sendiri yang mutlak.

Kamu baru saja terbang ke New York bersama pria bermata dalam, transplantasi sumsum tulang belakangnya berhasil, dan dalam rentang waktu itu tidak ada kabar apapun selain telpon yang biasanya ringkih penuh dengan canda-tawa suara kita, kini hanya menjadi sebongkah benda tak berguna. Tak ada kamu disana. Yang ada hanya rasa khawatir dan caci maki pada diri sendiri bahwa jarak benar-benar menjauh 2x lipat ketika tak ada apapun yang bisa digunakan untuk memangkasnya.

Dan setelah hari itu, tak adalagi cerita tentang kejenuhanmu meminum obat, rasa sakit atau suasana mencekam karena rintihanmu menahan sakit. Segala sesuatu menjadi keajaiban, kamu seperti terlahir kembali.  Kemudian sahabatku, yang kau panggil pria bermata dalam itu memberikan kabar yang tak kalah mengejutkan, bahwa kamu sudah pulih sepenuhnya, bahwa segala sesuatunya menjadi titik balik dan yang perlu dilakukan adalah melanjutkan impian.Meneruskan langkah, memastikanmu baik-baik saja, dan pergi untuk selamanya...





Pengalaman mengajarkan segalanya, begitu kira-kira yang semesta bicarakan dan sampai juga terdengar. Selalu yang menjadi kesulitan tersukar adalah bait pertama dan bait terakhirnya. Karena dari sanalah cerita dimulai dan diakhiri. Kebiasaan lain nya adalah,...tak ada apapun di bait pertama, tidak juga di bait terakhirnya.

Dalam kontradiksi antara hati dan pemikiran yang kadang kala tidak selalu sesuai dan membuahkan perasaan-perasaan yang terbawa dari kisah yang sudah-sudah, Sekelebat, selalu ada. Mengingatkan kembali bahwa sakit adalah sakit, bahagia adalah bahagia, menjadi tidak lagi logis karena Sekelebat itu mencampuradukkan keduanya. Hingga di titik ini, sebagian menyerah lalu membuka kembali kenangan-kenangannya dimasa-lalu yang susah payah coba dilupakannya, sebagian lainya acuh-tak-acuh menenangkan hatinya dan tetap melangkah.

Di Sekelebat itu, wajah-wajah pembuat perumpaan hidup muncul, di Sekelebat itu, cerita-cerita menyakitkan tercampur-aduk dengan kerinduan dari sebagian sisi menyenangkannya sehingga dengan mudah hati memaafkan dan menganggap bahwa segala sesuatunya bisa dimulai kembali. Lalu yang terjadi setelah itu, adalah perulangan rekursif yang tak henti-hentinya menatar dan menciptakan penyesalan-penyesalan baru ketika kita memutuskan untuk menyerah. Maka syukurilah. Atau segalanya benar-benar berakhir sudah.





Aku mengetuk pintu...
Seseorang dengan senyum indah datang membukakan...
Tak bicara namun akrab...
Dimanakah aku sekarang?
Pertanyaan yang hanya dijawab dengan sebuah anggukan...
Pintu itu tak lagi dapat tertutup...
Terbanjiri angin yang berkomplot membawa perasaan yang hilang...
Selang beberapa saat
aku menyadari bahwa aku...sendirian....








Tiba-tiba tawa terhenti
Berubah muram tanpa pesan
Tak ada penjelasan 
Tak ada alasan...
Tak menceritakan apapun

Tiba-tiba hati tak lagi menari
Berubah temaram tanpa hiasan
Padahal detik yang terlewati masih baik-baik saja
Tak ada alasan
Tak ada penjelasan...

Salahkah langkah ini?
Salahkah lisan ini?
Salahkah memperhatikannya seperti ini?
Sebutlah apapun itu, ini hanya sebuah....tanya



Sebait celah sunyi tak menemukan bintang
Tak terarah dan tak jua menyerah
Hanya terkulai di secarik lelah
Satu...Dua....Tiga....
Datang dan pergi silih berganti...

Nafas mulai terengah menahan pasrah..
Namun penantian tak kunjung usang..
Anak tangga tak berdasar tak tampak terlihat...Jauh..
Menangkup masa depan pada sebaris kiasan..

Iniliah alunan rindu...

Inilah alunan jiwa-jiwa yang terkurung rasa itu...

Riwayat batin masih tak terbaca
Kesukaan jiwa masih tak diketahui
Meredam dalam senja temaram..
Meredup dalam timbangan biduk..
Bernama...
Partitur hidup........



06 March 2013



Langit kembali meninggi, membawa senyum pada tempat yang sangat luas, bergerak diantara keping kehangatan yang disebut keluarga. Sahabat. Dan juga, harapan. Kamu telah kembali pulang.

Burung-burung berarak membawa terbang ikut bersorak, seperti aku yang tak henti terus menyimpulkan sebait senyum yang tak lepas sepanjang hari, melukiskan kebahagiaan, kelegaan. Dan juga, harapan.

Selamat sayang, kita merayakan sesuatu lagi, berdiri tepat didepan pintu yang disatu sisi mengurai syukur dan disisi bagian lainnya mengukir rindu. Sedikit membungkukan badan sebagai tanda terimakasih pada mereka yang telah menjadi keajaiban dan memberikan semua hal menakjubkan. Kebahagiaanmu semakin sempurna dengan adanya sebaris kata yang menuliskan namamu di puncak dunia impianmu. Kau memenangkannya. Aku sangat bangga, indah sayang, seperti juga lukisan yang dibuatkan sahabat, mengguratkan kejutan yang akan membekas sebagai kenangan tak terlupakan, memupuk riang, senang. Dan juga, harapan.

Maka tak ada alasan untuk tak melanjutkannya, untuk melengkapi mozaik-mozaik yang tersisa, diantara ruang waktu, rindu, dan cinta yang harus menunggu bertemu.








Diberdayakan oleh Blogger.