Atas nama rindu yang tertunda dan waktu yang menyatu. Aku selalu mengagumi tetesan hujan yang jatuh. Mengintai pelan-pelan setiap jiwa yang berjauhan dan saling merindukan. Bahkan keajaiban memaksa keyakinan untuk tetap percaya.


Waktu, seperti anak kecil yang berpura-pura menangis meminta sesuatu pada ibunya. Merengek lalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Setelah itu, ceria datang dengan sendirinya, seolah tak pernah terjadi apa-apa.


Rindu dan Waktu menyatu, membungkus balutan hidup pada perasaan takut kehilangan. Menutup rapat menyembunyikan kewajaran. Mengurung logika dalam ketidakwarasan. Setelah itu jarak akan menjadi penyempurna semua ketersiksaan yang ditimbulkan. Perpaduan sempurna atas nama rindu dan waktu yang menyatu. Terkumpul menjadi sesak diantara ruas rusuk, seperti hujan yang tertahan dan hanya terdengar dari kejauhan. Aku menyebutnya, rindu...



Mungkin terbiasa menghitung detak jarum jam dan lalu terkesima dan tertidur pulas, hingga pagi membangunkan. Padahal jika saja tegas berbicara pada yang tak berhak, akan memudahkan setiap langkah. mungkin terbiasa membuka keluhan terjaga pada penglihat yang tak seharusnya, hingga pagi menjelang, Padahal jika saja lugas menentukan pada yang tak berhak, akan memperindah setiap langkah. mungkin terbiasa mengurung suara hati dan lalu terlelap didalamnya, hingga pagi membiasakan, Padahal jika saja teguh pada ucapan dan menghindar dari pendongeng yang tak berhak, akan kurindukan setiap langkah

Kini tak lagi, kebebasan hati hanya didapat dari tingkat anak tangga yang berbeda, agar tak tersakiti ataupun kecewa, maka jangan bersedih ketika aku melangkah satu tempat lebih tinggi dan tak dapat kau jamah lagi untuk bersedih.



Dipersimpangan jalan mereka berdebat menentukan arah yang akan mereka lalui...
"Ke kanan saja".
"Tidak! Ke kiri saja".
"Jangan! Ke kanan saja"..
"Tidak! sebaiknya kau ke kiri saja"...
Perdebatan yang mengakar pada kelakar...

"Kenapa tak kita coba keduanya?".
Salah satu dari mereka memberikan saran.

Sang waktu menjawab:
"Karena kau hanya hidup satu kali!"....



Ternyata, kita hidup dan tinggal di dunia yang disekat-sekat. Diberi label dan dikelompokan berdasarkan entah apa namanya. Bahkan kebebasan sudah tak lagi menjadi kebebasan jika itu sudah menjadi keharusan.


Diberdayakan oleh Blogger.