Kamu berdiri dihadapanku, tepat disitu, "hei..kemarilah.." aku memanggilmu, tapi sepertinya kau tak mendengar,...karena ternyata, kita dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh...waktu yang menahun...

Langit masih gelap, bukan karena matahari lupa ingatan atau terlambat terbit, tapi karena awan sedang beriringan menjelaskan bahwa mereka tak sedang ingin saling mendahului. Kita masih duduk di tepi jendela yang terbuka, menatap dunia yang ingin dijelajahi dari balik jendela itu, tapi semua masih tampak sama. Dingin.

Hujan sepertinya akan segera tiba, dan seperti yang biasa kita lakukan untuk menyambutnya, ah, tentu saja, aku tidak akan mengatakannya disini. Benar saja, mereka menderas pelan, lalu beramai-ramai menjadi selimut kita yang semakin merasakan dingin. Dentingannya terus tercurah mengusap atap dan semua daun yang dihinggapinya, menelanjangi waktu yang seolah berjalan lebih lambat, dan dimensi kita menjadi terasa amat dekat tak berjarak. Ya.., kau dan aku.

"Apa kamu tidak bekerja hari ini?" suara lembutmu seperti menyadarkan lamunanku, "Iya sayang, sebentar lagi, aku masih ingin tinggal lebih lama disini, di dalam pikiranku sendiri, bersama kamu, bersama hujan".

"Apa kau ingin minum kopimu secangkir lagi?". Tidak sayang, terimakasih, lagipula, kau tak mungkin mengambilkannya untukku. lalu setelah itu kita hanya saling tersenyum. "Apa kau tak percaya aku bisa mengambilkannya untukmu sayang?" wajahmu semakin tersenyum seolah ingin membuktikan bahwa semua ketidakmungkinan itu menjadi kenyataan. 'Tentu sayang, jika kau pikir Tuhan mengijinkannya'.

*****

Lorong-lorong yang kulewati seperti kota mati yang tak berpenghuni, hanya beberapa petugas yang sedang berjaga sesekali tampak berkeliling, suasana seperti itu...sebutlah apapun itu, menarik ingatan pada waktu yang tlah lalu, dan kau ada didalamnya. Kita menuju anak tangga yang sama untuk kita lewati dan tiba di tempat yang lebih tinggi agar melihat dunia lebih luas dari biasanya. Dan kini, aku mendapati bahwa ternyata aku hanya sendiri.

Seperti juga malam itu, ketika semua kebahagiaan hidup yang baru tumbuh diantara kita harus kita relakan pada rangkulan lengan takdir yang ditetapkan, tak ada pertanyaan apapun pada Tuhan, kita hanya saling merelakan.

Meski tak berselang lama kita kembali dipersatukan, tapi sepertinya Pelukis Malam sedang ingin menyaksikan diorama yang berakhir pilu, atau mungkin itu caraNya memuluskan kutulusan yang harus dibuktikan. Tak sedikitpun kita mengeluh pada keadaan, dan kita hanya saling merelakan keadaan.

Sakitmu adalah sakitku, karena sebagian dari dirimu adalah sebagian dari diriku. Disetiap malam yang kita lalui dengan rasa cemas karena tak tau sampai kapan semua nyeri itu reda, kau hanya memintaku untuk berbicara lebih banyak, setidaknya itu bisa membuatmu lupa, begitulah yang kau katakan. Meski sebenarnya, kita hanya salin membodohi diri dengan teori itu, sesuatu yang tak pernah kita buktikan kebenarannya. Untuk menjadi apapun yang kita inginkan, kita hanya perlu membiasa, bukan begitu sayang?. "iya, dan kita akan membiasa lalu menjadi apapun yang kita inginkan", kau berlalu dangan secangkir kopi hitam yang kau siapkan untukku.

"Sayang aku mau coto!". Pintamu dengan wajah khasmu ketika menginginkan sesuatu. hei, bicaranya jangan seperti anak TK sayang!. Aku berlalu sambil tersenyum. "Ih...di tempatku memang namanya coto sayang!". Apakah kamu harus berbicara dengan kata itu?. "Sayang...memang namanya, COTO!". Wajahmu semakin lucu ketika sedang kesal. Baiklah sayang, mari kita makan SOTO!.

*****
Hujan ini masih tak juga reda, menancapkan pikiranku yang tertuju padamu, tak sedetikpun kulepaskan pandangan ini dari sosokmu, gaun putih yang kau kenakan semakin meyakinkanku bahwa kau adalah putri pelangi yang dikirimkan Tuhan. Yang harus kulihat dengan melewati hujan terlebih dulu, pelangi dengan banyak warna kecuali abu-abu, kau adalah kejelasan tak bersyarat yang melingkarkan kebahagiaan pada tubuhku. Mungkin, kau memang himpunan hujan yang disederhanakan bernama keindahan.

Kau masih tersenyum sambil bersandar dibahuku, awan gelap yang kita pandangi bersama tampak semakin memudar, entahlah, rasa kehilangan itu semakin menakutkan, dan kau tampak seperti baik-baik saja, ya, benar, seseorang yang datang adalah seseorang yang akan pergi meninggalkan. "Sayang, sepertinya Tuhan mengijinkannya, mengambilkan secangkir kopi lagi untukmu". Apa kau sedang bercanda sayang? aku balik bertanya. Kau semakin tersenyum seolah ingin membuatku takut dengan kenyataan itu. "Yasudah, biarkan saja, biarlah tetap seperti ini, aku masih ingin bersandar dibahumu". Rangkulan tanganmu semakin erat seolah tak ingin melepaskan, padahal sebentar lagi kita akan sama-sama beranjak saling menghilang. Kita, sama-sama saling terpejam menghadap hujan. Ya, kita sama-sama terpejam.
*****

Reda sudah. Aku membuka mataku. Mengusap linangan air mata yang sedari tadi ternyata sudah tercurah. Menahan sakitnya kehilangan. Meneriakkan kekosongan yang mengenggelamkan semua hal yang tak lagi sama. Dan secangkir kopi ini menjadi bukti bahwa kau memang hadir disini. Menemaniku bersama hujan, seperti yang telah kau janjikan. Kita, telah saling membagi beban dengan tak saling melupakan. Kau telah kembali ke tempatmu, dan aku, masih berada disini, di tempat yang terlalu lama untuk disebut sebagai tempat bermain. Dan aku harus menunggu setengah musim kedepan agar dapat melihatmu. Dalam Pikiranku. Karena mungkin, ini adalah hujan terakhir yang kita bagi di musim penghujan kali ini. tidakkah kesatria terbaikpun berhak untuk berdarah?. Tunggu saja kedatangku sayang, karena sebelum itu, aku harus menuliskan namamu terlebih dahulu di sebuah bangku taman yang menghadap ke sungai yang disampingnya ada sebuah lampu, dikota itu. Paris. Seperti impianku. Dan disana kita akan bertemu untuk terakhir kalinya sebelum bersama lagi di keabadian.


Bersama hujan, aku mengumandangkan do'a-do'a yang tak pernah kuceritakan....
Membagi waktu bersamamu...di dalam pikiran...
Menemukanmu dalam keindahan senyum...
Meski harus menunggu semusim lagi...aku tetap akan melakukannya...
Karena apapun itu..kau akan tetap hidup dan terkenang..
Hingga kita berdua yang akan menjadi sebait cerita yang bernama kenangan itu....
Mengenalmu, adalah cara Tuhan menunjukan keAgungan...
Dan disampingmu, adalah cara ku mewujudkan semua impian......


10:21 am
-ASW-



Cerita khas yang tak lepas dari masalah pribadi dan cerita-cerita remaja lainnya sepantaranmu, kadang aku merasa agak canggung dengan semua itu, tapi demi kenyamanan dan kelegaanmu melepas semua penat  dan keluhmu itu, aku selalu bersedia terlarut masuk terbenam dalam kalimat-kalimat keluhan yang kau tuturkan,

Setahun sudah waktu bergegas dan menarik apapun dalam dimensinya, tapi dari caramu bicara, dapat kusimpulkan semua itu tak berlaku, tak ada kronologis pada sesuatu yang tidak berada didimensi waktu, lagi dan lagi, sepertinya kamu tak merelakan, terus membahas tentang sesuatu yang sudah kubuang, jauh, masa lalu.

"Inget ga waktu kita....", "Dulu kan kita...", "Coba kalau dulu kita..."
Aku hanya tersenyum dan tawa kecil kadang menjadi jawaban terbaik yang bisa kuberikan untuk semua yang kau bicarakan atau ditanyakan, bukan apa-apa, kamu hanya terus membahas tentang sesuatu yang sudah kubuang, jauh, masa lalu.

"I'm Yours", betapa jelas tempat yang kau pijak dengan berkata seperti itu, Tidak kemanapun selama setahun lebih, kedewasaanmu tetap tersembunyi entah dimana, atau mungkin juga aku yang tak kunjung dewasa dan menganggap semua masalah itu adalah tanggung jawab pribadi masing-masing, entitas eksternal hanyalah uluran tangan Tuhan untuk membantu, aku hanya berbisik dalam hati, tak ingin berkata-kata apapun, apalagi menceritakan penilainku tentang apa yang kulihat, karena itu terdengar sedikit kejam dan mungkin bisa menyakiti hatimu itu.

Suasana mulai mulai terasa tak ramah, dan aku sangat mengenali suasana seperti ini, dimana daun yang melihat saling berbisik menceritakan kita yang semakin diam, serangga-serangga yang sedari tadi mengintip dari celah dedaunan itu hanya bengong memperhatikan dua makhluk yang sebentar lagi akan saling bertengkar, Seperti biasanya, dan aku sudah sangat jengah. Bagaimana lagi harus menjelaskan bahwa duduk permasalahan itu, penyebab semua ketidak akuran itu, penyebab semua masa lalu itu adalah ego, tapi tak pernah sekalipun saling mengerti.
Aku hanya bisa tersandar dan memejamkan mata, duduk dibangku kayu yang sama kerasnya dengan hatimu itu, meminta jalan keluar tapi tak mau mendengarkan, bertanya tapi tak ingin jawaban, maka aku hanya bisa diam.
Semesta seolah sependapat, mungkin aku harus menjelaskan dengan bahasa yang kamu mengerti, dan ego mu itu bisa kamu lihat sebagai wujud lain yang kamu pahami, sehingga nanti, kita tak akan pernah bertengkar lagi.


Benar saja, kamu tertawa terbahak-bahak begitu lepasnya setelah melihat ini, kamu benar-benar bahagia, bahagia seutuhnya. "lucu y, maksa banget, walaupun main alat musik nya lumayan bagus, tapi vocal nya ga jelas, ga ngerti, tapi ekspresinya itu aneh banget dan akhirnya bikin ngakak sampe capek, kenapa lagunya mesti I'm Yours?!..harusnya bawain lagu anak-anak aja!", kamu tiba-tiba berkelakar dan begitu jelas menyimpulkan hasil analisamu itu, sejelas-jelasnya.

Terimakasih Tuhan, akhirnya dia tau, do'aku terjawab sudah, pesanku tersampaikan sudah.
"Itulah kamu, dan mungkin itulah alasan kenapa kamu tidak pernah memahami orang lain, bahkan egomu sendiri, mungkin kita harus bisa bicara dulu untuk bernyanyi, dan bukan senandung hati, krn kt bukanlah manusia limited edition yang diberikan kemampuan khusus oleh Tuhan untuk bertelepati, sehingga untuk menyampaikan apa yang ingin kita ungkapkan, kita harus berbicara, berbahasa." aku akan coba bersabar lebih lama, menunggu kau tumbuh dan kita bisa saling tertawa, dalam cara serupa dalam bahasa yang sama....dan hingga saat itu tiba, aku tak akan membicarakan apapun denganmu, apapun..karena aku tidak memiliki kuasa apapun terhadap waktu yang bisa merubah segalanya, dan jika nanti aku tak dapat kau temui, maka itulah bahasa yang harus kamu baca, Jangan kembali lagi...





Diberdayakan oleh Blogger.